TEOLOGI HIKMAT
Pendahuluan:
Rangkaian Hermeneutik Alkitab:
Berangkat dari mana? melingkar dari konsep hermeneutik dan alkitab - strategi - metode - penafsiran - Etika Teolog - Kritik ideologi. Diskusi akan banyak di sekitar etika teologi, kritik ideologi dan konsep hermeneutik dan Alkitab.
Dalam ulasannya, Robert Setio menyampaikan tentang tantangan yang dihadapinya pada acara-acara di Pusat Pengembangan Spiritualitas. Dengan menganggap bahwa hikmat dan spiritualitas memiliki karakter yang sama. Menjadi menarik ketika memulai pendekatan kritik ideologi terhadap kitab Esther sebagai kitab hikmat. Memulainya dengan perubahan dalam pengertian hikmat.
Dimulai dari pengaruh besar dari para ahli kitab dalam perjanjian pertama, meliputi pengarsipan, penulisan sejarah dan tulisan-tulisan pengajaran membuat mereka mengontrol ideologi masyarakat di semua kurun waktu. Kiprah inilah yang dijelaskan oleh Philip Davies, dimana soferim-hakamim yang tidak dipentingkan kapan keberadaannya (mengingat pandangannya yang minimalis), melainkan kepada karya dan pengaruhnya yang bukan saja membahas peribadahan tetapi birokrasi pemerintahan. Melalui penelitiannya, kita mendapati bahwa alkitab adalah hasil karya dari para ahli kitab yang tidak akan membiarkan adanya ruang bagi pemikiran lain dari yang mereka sendiri yakini. Bagaimanakah kerangka pemikiran mereka? Davies tidak menjawab, untuk itu kita menengok karya ahli lain yaitu Gerald Sheppard.
Hikmat sebagai kontruksi hermeneutis pada ’semua’ kitab perjanjian pertama baik kenabian maupun yang lain, maka pengertian hikmat terkesan cair. Maka kita membutuhkan bantuan Crenshaw, karena toh tetap membutuhkan definisi sesedikit apapun. “Secara formal, hikmat berisi instruksi, persilangan pendapat, refleksi intelektual, tematik, sebagai bukti diri yang intuitif tentang hidup untuk kebaikan manusia, dan seterusnya.
Kitab Esther sebagai kitab hikmat dapat ditunjukkan melalui motif-motif yang khas hikmat, yaitu pertama yakni kisah keberhasilan murid setelah berguru kepada seseorang yang dianggap memiliki ilmu yang lebih tinggi yaitu antara Mordekhai dan Esther, motif kedua tentang antitesis orang-orang yang baik dan orang-orang yang jahat yang pada akhirnya binasa dan ketiga adalah penderitaan orang benar.
Kritik Ideologi antara Esther dan Wasti, kita akan cenderung memilih Wasti yang menolak untuk mempertontonkan kemolekan tubuhnya dibanding Esther yang menurut ketika dijadikan gundik.
Kritik lainnya adalah pembantaian musuh-musuh orang Yahudi pada pasal 9:5, 15 dan 16, antara balas dendam walau melindungi diri, cara berpikir ini melazimkan pembasmian etnis
yang berkaitan dengan umat pilihan dan pemisahan antara mereka yang diselamatkan dan tidak. Tidak sedikit pembaca kitab Esther yang juga tidak rikuh untuk mendukung sikap oportunis Esther, demi kelansungan hidup orang Yahudi yang adalah umat Tuhan. Ini jelas merupakan pelanggaran terhadap nilai-nilai etis bahkan pembasmian yang dilakukan terhadap anak buah dan keluarga Haman.
Maka menetapkan kitab Esther sebagai kitab hikmat menjadi sulit kecuali jika hikmat yang dimaksud adalah hikmat pragmatis, yang menggerakkan orang dalam dunia nyata, hikmat yang terintegrasi dengan aksi.
Tidak munculnya Tuhan dalam kitab Esther salah satunya ditanggapi oleh Jack Miles “The cry of the Jews in Persia does not rise up to God, God takes no action on their behalf, and they give no indication whatsoever that they expect him to do so. On the contrary, they rescue themselves from this peril by their own courage and resourcefulness” (Miles, 1995:358)
Hikmat dalam kitab Esther adalah hikmat yang berupa siasat hidup agar tidak terjebak dalam sebuah dominasi yang mematikan, hikmat yang demikian adalah hikmat yang pragmatis bukan idealis. “dimana ada kesulitan selalu ada harapan”
Tanggapan:
E. G. Singgih, pemisahan antara the mind and the heart dan kesan penekanan pada the mind padahal lebaf lebih pada DIRI yang integral. Mengapa memilih kitab Esther, karena sesungguhnya ada petunjuk atau kriteria yang dipenuhi untuk mengangkat kitab ini sebagai kitab hikmat. Jangan-jangan ketika semuanya telah dipukul secara kritik ideologis maka yang tersisa bukanlah hikmat melainkan hikmah. Info: pada Esther 4:14, umunya kata “pihak lain” ditafsirkan Tuhan.
Jakub Santoja: apakah upaya Davies tentang “the scribe” maka secara etis hermeneutis apakah bukan sebuah dominasi terhadap pluralitas? juga kultur Persia yang mendominasi dan masuk ke dalam pikiran Davies. Tiga kali teks menunjukkan bahwa tulisan kitab sejaran Persia.
Tetapi pada 9:32 maka jenis kitab tidak disebutkan. Dan ketika menyoroti Esther, apakah justru dari kaca mata kultur maskulin yang menunjukkan sikap Wasti, sementara Esther sebagai korban?
Yahya Wijaya
Ataukah justru kitab Esther bisa menjadi kritik bagi perkembangan teologi feminis saat ini?